Contoh Lengkap Laporan Study Tour ke Yogyakarta

Ditulis oleh: Contoh Karya Tulis -
Advertisement
Contoh Laporan Study Tour Wisata Yogyakarta - Masih dengan berbagai contoh karya tulis, berkaitan dengan uraian sebelumnya mengenai Contoh Laporan Study Tour Terbanyak kali ini contoh pertama yang akan dibahas adalah laporan studi wisata yogyakarta. Ingin tahu bagaimana bentuk dan isi laporan tersebut?

Sobat pelajar yang baru melaksanakan study tour (study wisata) ke daerah wisata yogyakarta mungkin akan membutuhkan contoh ini sebagai referensi dalam menyusun tugas laporan yang diberikan. Dari contoh karya tulis berikut di harapkan rekan pelajar semua bisa mendapatkan gambaran mengenai isi dari laporan ini. Yang membutuhkan silahkan lihat contoh tersebut di bawah ini.



Perlu saya ingatkan bahwa laporan tersebut hanya diperuntukkan sebagai contoh dan akan tidak bijaksana dan merugikan diri sendiri jika sobat semua menggunakannya untuk tugas pribadi tanpa menyusunnya sendiri.

Penasaran bagaimana isi dari laporan study tour ini? Silahkan dibaca sekilas mengenai laporan ini melalui cuplikan yang akan saya berikan berikut ini. Sebagai catatan, cuplikan ini hanya merupakan sebuah contoh yang akan sangat mungkin berbeda dengan susunan yang akan sobat lakukan.

BAB I 
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Seiring dengan pendidikan yang semakin modern dan berkembang,yang tidak hanya mengandalkan teori/materi serta terpacu pada buku yang ada di sekolah, tapi perlunya praktek dengan cara terjum langsung mengamati objek yang selalu di pelajari, sehingga pelajaran lebih efektip dan efesien.

Serta supaya bertambahnya wawasan dan pengetahuan tentang sejarah dan kebudayaan yang ada di Indonesia, dan menjadikan siswa MTs N –LEUWISARI siswa yang mempunyai jiwa Patriotisme dan Nasionalisme terhadap Negara Indonesia ini.

Dan juga agar siswa MTs N LEUWISARI ini lebih mengetahui Peninggalan sejarah yang ada di Indonesia melalui melihat langsung. Dan terjalinnya hubungan keakraban yang lebih erat antar siswa ataupun antar guru dengan siswa.

1.2 Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
  1. Menambah wawasan berupa Ilmu Pengetahuan
  2. Mempraktekan secara langsung segala Teori yang sudah di dapat di sekolah.
  3. Mengenal lebih dekat lagi Budaya Daerah dan Bangsa Indonesia
  4. Menerapkan ilmu pengetahuan dan dapat menarik kesimpulan sebagai bekal pengetahuan dimasa yang akan datang.
BAB II 
ISI

2.1 Perjalanan study Tour
Perjalanan Study Tour MTs N LEUWISARI dilaksanakan pada hari senin-selasa tgl 17 januari 2013 , pada jam 20.00 kami semua sudah berkumpul disekolah untuk melaksanakan solat isya dan mendengarkan pengarahan pengarahan. Kurang lebih pukul 21.00 kami pun berangkat ke Jogjakarta,

Pada sekitar pukul 23.45 WIB kami beristirahat sejenak di POM Bensin yang berada di daerah cimanggu kabupaten majenang, untuk melepas lelah dan buang air. Dan pukul 24.00 kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke jogjakarta kembali. Dan kami pun berhenti kembali di Terminal Bus yang letaknya kami kurang tau karena kami disana sekitar pukul 02.00 , disana kami melepas kepenatan dan kelelahan selama perjalanan dengan cara, berjalan jalan.

Pada pukul 03.30 kami sampai di sebuah restoran bernama Orang Utan, untuk melaksanakan mandi,solat subuh, dan aktipitas yang lainnya. Pada pukul 06.00 kami pun sarapan pagi disana, dengan beberapa menu khas disana. Setelah sarapan kami melanjutkan perjalanan ke kawasan CANDI BOROBUDUR. Di Kab Magelang jawa Tengah.

Dan pada Pukul 07.00 kami pun sampai di Borobudur. Setelah dari Borobudur kami melanjutkan perjalanan menuju MONJALI di monjali kami agak sedikit lama dikarenakan disana ujan, jadi kami terpaksa menunggu bis menjemput ke lokasi. Setelah dari monjali kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke TAMAN PINTAR, disana kami banayak belajar banyak mengenai ilmu ‘’ yg sering kami pelajari di sekolah.

Setelah dari taman pintar kami pun belanja di daerah JL.Malioboro, disana terdapat banayak pernak pernik khas jogja atau pun baju” dan yg lainnya, setelah berbelanja sekitar pukul 17.54 kami melaksanakan solat magrib di SMPN 2 JOGJAKARTA. Setelah solat kami pun melanjutkan perjalanan menuju R.Ambar Ketawang untuk makan malam. Dah setelah makan malam sekitar pukul 21.00 kami pun melanjutkan perjalanan pulang menuju Kab.Tasikmalaya,. dan pada pukul 03.00 kami pun sampai di MTs N LEUWISARI..

2.1 Goa Jati jajar
Gua ini ditemukan oleh seorang petani yang memiliki tanah di atas Gua tersebut yang Bernama "Jayamenawi". Pada suatu ketika Jayamenawi sedang mengambil rumput, kemudian jatuh kesebuah lobang, ternyata lobang itu adalah sebuah lobang ventilasi yang ada di langit-langit Gua tersebut. Lobang ini mempunyai garis tengah 4 meter dan tinggi dari tanah yang berada dibawahnya 24 meter.

Gua Jatijajar adalah sebuah tempat wisata berupa gua alam yang terletak di desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Gua ini terbentuk dari batu kapur. Gua Jatijajar mempunyai panjang dari pintu masuk ke pintu keluar sepanjang 250 meter. Lebar rata-rata 15 meter dan tinggi rata-rata 12 meter sedangkan ketebalan langit-langit rata-rata 10 meter, dan ketingian dari permukaan laut 50 meter.

Di dalam Gua Jatijajar terdapat 7 (tujuh) sungai atau sendang, tetapi yang data dicapai dengan mudah hanya 4 (empat) sungai yaitu:
1. Sungai Puser Bumi
2. Sungai Jombor
3. Sungai Mawar
4. Sungai Kantil

Untuk sungai Puser Bumi dan Jombor konon airnya mempunyai khasiat dapat digunakan untuk segala macam tujuan menurut kepercayaan masing-masing. Sedangkan Sungai Mawar konon airnya jika untuk mandi atau mencuci muka, mempunyai khasiat bisa awet muda. Adapun Sendang kantil jika airnya untuk cuci muka atau mandi, maka niat/cita-citanya akan mudah tercapai.

Pada tahun 1975 Gua Jatijajar mulai dibangun dan dikembangkan menjadi Objek Wisata. Adapun yang mempunyai ide untuk mengembangkan atau membangun Gua Jatijajar yaitu Bapak Suparjo Rustam sewaktu menjadi Gubernur Jawa Tengah. Sedang pada waktu itu yang menjadi Bupati Kebumen adalah Bapak Supeno Suryodiprojo.

Di dalam Gua Jatijajar banyak terdapat Stalagmit dan juga Pilar atau Tiang Kapur, yaitu pertemuan antara Stalagtit dengan Stalagmit. Kesemuanya ini terbentuk dari endapan tetesan air hujan yang sudah bereaksi dengan batu-batu kapur yang ditembusny

2.2 Kraton Yogyakarta
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau Keraton Yogyakarta dikenal secara umum oleh masyarakat sebagai bangunan istana salah satu kerajaan nusantara. Keraton Yogyakarta merupakan istana resmi Kesultanan Yogyakarta sampai tahun 1950 ketika pemerintah Negara Bagian Republik Indonesia menjadikan Kesultanan Yogyakarta (bersama-sama Kadipaten Paku Alaman) sebagai sebuah daerah berotonomi khusus setingkat provinsi dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta.

Keraton Yogyakarta mulai didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I beberapa bulan pasca Perjanjian Giyanti di tahun 1755. Lokasi keraton ini konon adalah bekas sebuah pesanggarahan yang bernama Garjitawati. Pesanggrahan ini digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah raja-raja Mataram (Kartasura dan Surakarta) yang akan dimakamkan di Imogiri. Versi lain menyebutkan lokasi keraton merupakan sebuah mata air, Umbul Pacethokan, yang ada di tengah hutan Beringin. Sebelum menempati Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono I berdiam di Pesanggrahan Ambar Ketawang yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Gamping.

Arsitek istana ini adalah Sultan Hamengku Buwono I sendiri, yang merupakan pendiri dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Bangunan pokok dan desain dasar tata ruang dari keraton berikut desain dasar landscape kota tua Yogyakarta diselesaikan antara tahun 1755-1756. Dahulu bagian utama istana, dari utara keselatan, dimulai dari Gapura Gladhag di utara sampai di Plengkung Nirboyo di selatan. 

Bagian-bagian utama keraton Yogyakarta dari utara ke selatan adalah: Gapura Gladag-Pangurakan; Kompleks Alun-alun Ler (Lapangan Utara) dan Mesjid Gedhe (Masjid Raya Kerajaan); Kompleks Pagelaran, Kompleks Siti Hinggil Ler, Kompleks Kamandhungan Ler; Kompleks Sri Manganti; Kompleks Kedhaton; Kompleks Kamagangan; Kompleks Kamandhungan Kidul; Kompleks Siti Hinggil Kidul (sekarang disebut Sasana Hinggil); serta Alun-alun Kidul (Lapangan Selatan) dan Plengkung Nirbaya yang biasa disebut Plengkung Gadhing.

Selain bagian-bagian utama yang berporos utara-selatan keraton juga memiliki bagian yang lain. Bagian tersebut antara lain adalah Kompleks Pracimosono, Kompleks Roto Wijayan, Kompleks Keraton Kilen, Kompleks Taman Sari, dan Kompleks Istana Putra Mahkota (mula-mula Sawojajar kemudian di nDalem Mangkubumen). Di sekeliling Keraton dan di dalamnya terdapat sistem pertahanan yang terdiri dari tembok/dinding Cepuri dan Baluwerti. Di luar dinding tersebut ada beberapa bangunan yang terkait dengan keraton antara lain Tugu Pal Putih, Gedhong Krapyak, nDalem Kepatihan (Istana Perdana Menteri), dan Pasar Beringharjo.

2.3 Candi Prambanan
Candi Prambanan adalah candi Hindu terbesar di Asia Tenggara, tinggi bangunan utama adalah 47m. Kompleks candi ini terdiri dari 8 kuil atau candi utama dan lebih daripada 250 candi kecil. Pada tahun 1733, candi ini ditemukan oleh CA. Lons seorang berkebangsaan Belanda, kemudian pada tahun 1855 Jan Willem IJzerman mulai membersihkan dan memindahkan beberapa batu dan tanah dari bilik candi. beberapa saat kemudian IsaƤc Groneman melakukan pembongkaran besar-besaran dan batu-batu candi tersebut ditumpuk secara sembarangan di sepanjang Sungai Opak. Pada tahun 1902-1903.

Theodoor van Erp memelihara bagian yang rawan runtuh. Pada tahun 1918-1926, dilanjutkan oleh Jawatan Purbakala (Oudheidkundige Dienst) di bawah P.J. Perquin dengan cara yang lebih metodis dan sistematis, sebagaimana diketahui para pendahulunya melakukan pemindahan dan pembongkaran beribu-ribu batu tanpa memikirkan adanya usaha pemugaran kembali.Pada tahun 1926 dilanjutkan De Haan hingga akhir hayatnya pada tahun 1930. Pada tahun 1931 digantikan oleh Ir. V.R. van Romondt hingga pada tahun 1942 dan kemudian diserahkan kepemimpinan renovasi itu kepada putra Indonesia dan itu berlanjut hingga tahun 1993.

Banyak bagian candi yang direnovasi, menggunakan batu baru, karena batu-batu asli banyak yang dicuri atau dipakai ulang di tempat lain. Sebuah candi hanya akan direnovasi apabila minimal 75% batu asli masih ada. Oleh karena itu, banyak candi-candi kecil yang tak dibangun ulang dan hanya tampak fondasinya saja. Sekarang, candi ini adalah sebuah situs yang dilindungi oleh UNESCO mulai tahun 1991. Antara lain hal ini berarti bahwa kompleks ini terlindung dan memiliki status istimewa, misalkan juga dalam situasi peperangan.

Tiga candi utama disebut Trisakti dan dipersembahkan kepada sang hyang Trimurti: Batara Siwa sang Penghancur, Batara Wisnu sang Pemelihara dan Batara Brahma sang Pencipta. Candi Siwa di tengah-tengah, memuat empat ruangan, satu ruangan di setiap arah mata angin. 

Sementara yang pertama memuat sebuah arca Batara Siwa setinggi tiga meter, tiga lainnya mengandung arca-arca yang ukuran lebih kecil, yaitu arca Durga, sakti atau istri Batara Siwa, Agastya, gurunya, dan Ganesa, putranya. Arca Durga juga disebut sebagai Rara atau Lara/Loro Jongrang (dara langsing) oleh penduduk setempat. Untuk lengkapnya bisa melihat di artikel Loro Jonggrang. 

Dua candi lainnya dipersembahkan kepada Batara Wisnu, yang menghadap ke arah utara dan satunya dipersembahkan kepada Batara Brahma, yang menghadap ke arah selatan. Selain itu ada beberapa candi kecil lainnya yang dipersembahkan kepada sang lembu Nandini, wahana Batara Siwa, sang Angsa, wahana Batara Brahma, dan sang Garuda, wahana Batara Wisnu. 

Lalu relief di sekeliling dua puluh tepi candi menggambarkan wiracarita Ramayana. Versi yang digambarkan di sini berbeda dengan Kakawin Ramayana Jawa Kuna, tetapi mirip dengan cerita Ramayana yang diturunkan melalui tradisi lisan. Selain itu kompleks candi ini dikelilingi oleh lebih dari 250 candi yang ukurannya berbeda-beda dan disebut perwara. Di dalam kompleks candi Prambanan terdapat juga museum yang menyimpan benda sejarah, termasuk batu Lingga batara Siwa, sebagai lambang kesuburan.

2.4 Taman Pintar
Pembangunan Taman Pintar dimulai sejak Mei 2006 dan diresmikan pada 9 Juni 2007 oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwono X, bersama dua menteri, yakni Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Kusmayanto Kadiman, P.hD. dan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA. 

Taman ini memadukan secara serasi konsep pendidikan dan konsep permainan sebagai sarana penyebaran informasi tentang hiburan dan khazanah iptek. Pendekatan taman ini dalam menyampaikan iptek dilakukan melalui be rbagai media dengan tujuan meningkatkan apresiasi, merangsang rasa ingin tahu, menumbuhkan kesadaran, dan memancing kreatifitas anak-anak terhadap iptek.

Dengan pendekatan itulah taman ini memilih maskot berupa “Burung Hantu Memakai Blangkon”. Burung Hantu dimaknai sebagai burung malam yang mempunyai kepekaan tinggi, mampu mempelajari, dan mampu merasakan kejadian alam yang ada di sekitarnya, sedangkan blangkon merupakan pakaian adat Yogyakarta yang digunakan untuk menutup kepala laki-laki. 

Adapun moto taman ini menggunakan landasan filosofis yang diadopsi dari ajaran Ki Hadjar Dewantara, yakni 3N: Niteni (memahami/mengingat), Nirokake (menirukan), dan Nambahi (mengembangkan). 

Dalam konteks masa kini, filosofi tersebut menemukan relevansinya dengan proses transfer ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengacu pada konsep 3A, yaitu: Adopt, Adapt, dan Advance. Beberapa zona di Taman Pintar Yogyakarta adalah sebagai berikut:

a. Playground
b. Gedung Heritage
c. Gedung Oval
d. Gedung Kotak

2.5 Candi Borobudur
Candi Borobudur terletak di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah. Candi Borobudur dikelilingi oleh Gunung Merapi dan Merbabu di sebelah Timur, Gunung Sindoro dan Sumbing di sebelah Utara, dan pegunungan Menoreh di sebelah Selatan, serta terletak di antara Sungai Progo dan Elo. Candi Borobudur didirikan di atas bukit yang telah dimodifikasi, dengan ketinggian 265 dpl.
- Denah Candi Borobudur ukuran panjang 121,66 meter dan lebar 121,38 meter.
- Tinggi 35,40 meter.
- Susunan bangunan berupa 9 teras berundak dan sebuah stupa induk di puncaknya. Terdiri dari 6 teras berdenah persegi dan3 teras berdenah lingkaran.
- Pembagian vertikal secara filosofis meliputi tingkat Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu.
- Pembagian vertikal secara teknis meliputi bagian bawah, tengah, dan atas.
- Terdapat tangga naik di keempat penjuru utama dengan pintu masuk utama sebelah timur dengan ber-pradaksina.
- Batu-batu Candi Borobudur berasal dari sungai di sekitar Borobudur dengan volume seluruhnya sekitar 55.000 meter persegi (kira-kira 2.000.000 potong batu)

Candi Borobudur muncul kembali tahun 1814 ketika Sir Thomas Stanford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris yang menjadi wali negara Indonesia mengadakan kegiatan di Semarang, waktu itu Raffles mendapatkan informasi bahwa di daerah Kedu telah ditemukan susunan batu bergambar, kemudian ia mengutus Cornelius seorang Belanda untuk membersihkannya. Pekerjaan ini dilanjutkan oleh Residen Kedu yang bernama Hartman pada tahun 1835. 

Disamping kegiatan pembersihan, ia juga mengadakan penelitian khususnya terhadap stupa puncak Candi Borobudur, namun sayang mengenai laporan penelitian ini tidak pernah terbit. Pendokumentasian berupa gambar bangunan dan relief candi dilakukan oleh Wilsen selama 4 tahun sejak tahun 1849, sedangkan dokumen foto dibuat pada tahun 1873 oleh Van Kinsbergen. 

Menurut legenda Candi Borobudur didirikan oleh arsitek Gunadharma, namun secara historis belum diketahui secara pasti. Pendapat Casparis berdasarkan interpretasi prasasti berangka tahun 824 M dan prasasti Sri Kahulunan 842 M, pendiri Candi Borobudur adalah Smaratungga yang memerintah tahun 782-812 M pada masa dinasti Syailendra. Candi Borobudur dibangun untuk memuliakan agama Budha Mahayana.

Pendapat Dumarcay Candi Borobudur didirikan dalam 5 tahap pembangunan yaitu:
- Tahap I +780 Masehi
- Tahap II dan III + 792 Masehi
- Tahap IV + 824 Masehi
- Tahap V + 833 Masehi

Upaya pemugaran Candi Borobudur dilakukan sebanyak dua kali yaitu pertama dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda dibawah pimpinan Van Erp dan yang kedua dilakukan oleh pemerintah Indonesia yang diketuai oleh Soekmono (alm).

a. Pemugaran I tahun 1907 – 1911, Pemugaran I sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah Hindia Belanda.
b. Pemugaran II tahun 1973 – 1983, Sesudah usaha pemugaran Van Erp berhasil diselesaikan pada tahun 1911, pemeliharaan terhadap Candi Borobudur terus dilakukan. 

Disamping maknanya sebagai lambang alam semesta dengan pembagian vertikal secara filosofis meliputi Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu, Candi Borobudur mengandung maksud yang amat mulia, maksud ini diamanatkan melalui relief-relief ceritanya. Candi Borobudur mempunyai 1.460 panil relief cerita yang tersusun dalam 11 deretan mengitari bangunan candi dan relief dekoratif berupa relief hias sejumlah 1.212 panil. 

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Keraton Yogyakarta, Goa jatijajar, Kebun Binatang Gembiro Loka, Candi prambanan, Candi borobudur, dan Taman Pintar merupakan objek wisata bersejarah yang patut dilestarikan dan dijaga keindahannya sebagai salah satu tempat rekreasi yang memiliki nilai historis bagi bangsa Indonesia.

3.2 Saran
Objek-objek wisata Keraton Yogyakarta, Goa jatijajar, Kebun Binatang Gembiro Loka, Candi prambanan, Candi borobudur, dan Taman Pintar merupakan aset yang layak untuk dirawat dan dilestarikan karena itu penulis menyarankan kepada semua kalangan agar dapat berperan serta dalam melestarikan dan menjaga keindahan dan keutuhan tempat atau objek wisata tersebut.

Bagi sobat pelajar yang benar-benar buntu dan memerlukan referensi lengkap tentang bagaimana menyusun laporan yogyakarta ini maka sobat dapat menyalin contohnya melalui tautan yang telah disediakan.

Contoh Lampiran Laporan Study Wisata Jogja

Berbekal contoh di atas saya sangat yakin sobat semua dapat menciptakan dan menyusun sebuah laporan study tour yang lebih baik dan mendapatkan nilai yang lebih memuaskan. Sampai disini saja pembahasan kali ini, sampai bertemu di contoh karya tulis lainnya.